Showing posts with label Penemuan. Show all posts
Showing posts with label Penemuan. Show all posts
/ /

Arti Kode Grafit Pada Pensil (Unrated)

Unsur utama pensil adalah percampuran grafit dan tanah liat dimana dengan ragam rasio antara keduanya akan menghasilkan hasil yang berbeda. 


Apabila tanah liat dikurangi maka grafit akan mendominasi volume yang ada sehingga hasilnya akan semakin hitam, begitupun apabila tanah liatnya terlalu banyak maka hasilnya akan memudar (tidak terlalu hitam) akan tetapi batangnya lebih keras.

Bila terlalu banyak grafit maka batang pensil akan sangat lembut tetapi juga lebih cepat aus. Sedangkan bila menggunakan pensil yang terlalu sedikit grafit maka untuk menghitamkannya perlu beberapa kali goresan yang tentu juga akan mengauskan kertas.

Jadi penggunaan pensil (khususnya saat menggambar) sebaiknya bukan melulu dengan bermain pada jumlah goresan melainkan dengan menggunakan komposisi pensil yang sesuai.

Komposisi tersebut bisa kita ketahui karena pasti tercetak / tertulis jelas pada batang pensil. Unsurnya adalah 3 huruf yaitu H, F dan B.

H berarti Hardness (yaitu tingkat kekerasan, skalanya antara H, 1H sampai 9H, semakin tinggi angkanya berarti semakin keras).
F berarti Fine (yang diperuntukan utk menulis dan tanpa skala).
B berarti Blackness (tingkat kehitaman dari mulai B, 1B, 9B bahkan 9xxB).


Misalkan:

1. HB berarti lebih keras dan lebih hitam dari F
2. 2B lebih hitam dan tidak keras.
3. HHBBB berarti lebih keras 2 kali lipat dan sangat amat hitam. Dapatkah kita membayangkan seberapa hitam pensil 9B itu?

Adapun pengkodean tersebut adalah mengikuti cara Inggris yang de facto lebih dianut sebagai kode internasional sedangkan Amerika membuat pengkodean sendiri yang terbatas pada penggunaan yang paling umum yaitu #1 (B), #2 (HB), #2½ (F), #3 (H) dan #4 (2H).

Ada satu hal yang menarik dalam pengkodean pensil tersebut bahwa ternyata sebenarnya "tidak ada standar internasional penentuan kadar grafit dan tanah liat bagi setiap produsen pensil" jadi kehitaman pensil 2B pada pensil merk "Anu" bisa berbeda dengan 2B pada pensil merk "Itu".

/ /

Cara Ilmiah Kendalikan Marah Terungkap


Marah memang butuh pengendaliannya sendiri. Kini para ilmuwan berhasil menemukan cara sederhana untuk berlatih mengendalikan amarah Anda. Ingin tahu?

Bagi Anda yang menggunakan tangan kanan sebagai tangan utama untuk berakfitas, ada kebiasaan sederhana yang bisa Anda lakukan untuk mengendalikan amarah Anda, seperti memulai kebiasaan menggunakan mouse, mengaduk teh atau kopi dengan tangan kiri.

Bagi Anda yang kidal, bisa melakukan kebalikannya. ‘Melatih’ diri Anda sendiri menggunakan tangan ‘salah’ memiliki efek sebagai latihan untuk jenis lain pengendalian diri, seeperti menjadi ramah atau sopan seperti dikutip DM.

Dalam dua pekan latihan, kecenderungan Anda meledak-ledak akan berkurang.

“Menggunakan mouse, mengaduk kopi atau membuka pintu merupakan latihan yang bisa dilakukan untuk mengendalikan diri karena kecenderungan kebiasaan adalah menggunakan tangan yang dominan,” kata Dr Thomas Denson dari University of New South Wales.

Latihan ini memang sulit di awal, namun latihan dalam jangka panjang akan membuat Anda memiliki kapasitas kendali yang lebih kuat dan lebih kuat, tutupnya.
sumber

/ /

LIPI Publikasikan 2 Spesies Anggrek Baru


Lembaga Imu Pengetahuan Indonesia (LIPI) baru-baru ini mempublikasikan dua spesies anggrek baru dari belantara Kalimantan. Anggrek spesies baru berbunga indah ini diberi nama Dendrobium flos-wanua D.Metusala, P.O'Byrne & J.J.Wood dan Dendrobium dianae D.Metusala, P.O'Byrne & J.J.Wood.

Seperti rilis yang diterima detikcom dari LIPI, Senin (27/9/2010), Kedua spesies ini dideskripsikan secara ilmiah oleh Destario Metusala (Kebun Raya Purwodadi-LIPI) bersama kedua rekannya Peter O'Byrne (praktisi anggrek di Singapura) dan J.J.Wood (Peneliti dari Herbarium Kew Botanical Garden-Inggris).

Anggrek ini termasuk didalam marga Dendrobium seksi Calcarifera yang pusat spesiasinya diduga ada di bagian barat Indonesia, yaitu pulau Sumatera. Namun penelitian yang dilakukan secara simultan oleh peneliti dari Herbarium Kew Botanical Garden-Inggris yang mengobservasi kawasan Sarawak dan peneliti dari Kebun Raya LIPI yang melakukan observasi di Kalimantan, menunjukkan bahwa pulau Borneo merupakan salah satu pusat spesiasi yang utama dari Dendrobium seksi Calcarifera ini.

Kedua anggrek spesies baru ini diperkirakan memiliki area distribusi yang terbatas hanya di kawasan Kalimantan. Oleh karena itu jenis ini tergolong sebagai spesies endemik yang memerlukan perhatian khusus untuk konservasinya.

Anggrek spesies baru yang pertama adalah Dendrobium flos-wanua. Anggrek ini memiliki bunga dengan lebar 2.1-2.2 cm, berwarna hijau kekuningan mengkilat, sepal-petalnya membuka lebar, dengan bagian cuping tengah bibir bunga yang cukup lebar, berbentuk hampir segi empat dan berbelah dangkal di bagian ujungnya. Dalam satu perbungaan dapat membawa 2 sampai 8 kuntum bunga yang mekar hampir bersamaan. Selain bibir bunganya yang lebar, ciri khas unik anggrek ini adalah pada tonjolan kalus berbentuk "U" yang melintang pada bibir bunganya. Nama flos-wanua berarti "bunga Wanua" yang diambil dari nama Vincent Wanua, seorang hobiis anggrek di Malang yang telah membantu dalam penelitian ini.

Jenis anggrek yang kedua adalah Dendrobium dianae yang memiliki kedekatan morfologi dengan anggrek Dendrobium muluense dari Sarawak, bedanya kalau pada bibir D. dianae memiliki dua buah kalus sejajar yang memanjang dan membujur di permukaan cuping tengah bibir bunganya. Anggrek ini memiliki bunga dengan lebar 1.6-1.8 cm, berwarna mulai dari hijau muda polos hingga kuning tua mengkilat dengan pola strip kemerahan pada sepal dan petalnya. Perbungaannya menggantung dan menggerombol antara 4-12 kuntum bunga, sehingga rangkaian bunganya nampak sangat padat. Keunikan lainnya yaitu, variasi warna Dendrobium dianae yang sangat beragam. Padahal selama ini variasi warna tidak terlalu menonjol untuk seksi Calcarifera. Dari hasil observasi diketahui bahwa terdapat setidaknya 5 variasi warna pada spesies ini, dan antar variasi warna bisa sangat ekstrim perbedaannya. Sehingga dari sisi hortikultura, keragaman warna pada D. dianae ini justru dapat menjadi potensi besar untuk dikembangkan sebagai sumber genetik dalam kegiatan pemuliaan anggrek dan hibridisasi. Nama anggrek ini didedikasikan untuk seorang hobiis anggrek sekaligus penggiat konservasi anggrek di Kalimantan Selatan (Banjarmasin) bernama Dian Rachmawaty.

Dari sisi budidaya, anggrek ini terbukti cukup adaptif pada ketinggian 300-900 m dpl, dengan intensitas cahaya 50-70 persen. D. flos-wanua umumnya berbunga pada bulan April, Juni dan November. Sedangkan D. dianae hampir dapat berbunga sepanjang tahun. Kedua anggrek dari seksi Calcarifera ini menyukai media perakaran yang lembab, dan lingkungan dengan aerasi yang terbuka dan banyak angin. Hama berbahaya yang sering menyerang adalah tungau.
Sumber